Raya Dieng 2 Malang | Telp +62 (341) 551143 / +62 813 3410 2323
Home
Contact

Article

Jumat , 03 Ags 2018 14:38:56

Membiasakan Anak Perawatan ke Dokter Gigi Sedari Dini

Bagi orang tua di Indonesia membiasakan anak perawatan ke dokter gigi terkadang menjadi sebuah momok. Hal tersebut karena paradigma yang telah tertanam di masyarakat menyangkut dokter gigi. Seperti pernyataan, ‘kalau ke dokter gigi nanti akan sakit atau nanti disuntik’, sehingga anak menjadi takut untuk pergi ke dokter gigi.


Sebagian orang tua bahkan sering mengancam anaknya jika berbuat salah, yaitu dengan menakut-nakuti akan disuntik oleh dokter. Padahal hal tersebut salah dan tidak boleh dilakukan oleh orang tua, karena akan menanamkan pikiran negatif dan kekhawatiran yang tidak perlu pada anak. Perawatan gigi pada anak seharusnya dirancang dengan metode yang menyenangkan, sehingga anak pun senang dan berpikiran positif terhadap klinik gigi.


Beberapa orang tua sampai berbohong untuk membujuk anaknya pergi ke dokter gigi. Terkadang berbohong kepada anak bukanlah cara yang tepat. Jika kita menggunakan cara-cara yang membohongi anak, maka anak akan kecewa ,trauma, serta menumbuhkan rasa ketidakpercayaan anak terhadap perawatan gigi.


Ada tiga komponen yang harus berperan agar perawatan gigi anak dapat berlangsung dengan lancar. Komponen tersebut digambarkan dalam bentuk segitiga, yang dikenal sebagai segitiga perawatan gigi anak. Pada segitiga tersebut, terdiri dari dokter gigi, keluarga (terutama ibu) dan anak sebagai pasien terletak pada puncak segitiga.


Segitiga tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi. Dokter gigi berperan mengedukasi serta memberikan perawatan gigi terhadap pasien anak, sedangkan orang tua di sini berperan untuk memberikan pengertian kepada anak dan juga memberikan dukungan sepenuhnya kepada dokter gigi untuk melakukan perawatan gigi terhadap anak sesuai dengan prosedur. Orang tua tidak boleh terlalu memanjakan anak, agar anak tidak menjadi cengeng ketika dilakukan prosedur perawatan gigi.


Terdapat beberapa kasus orang tua yang melontarkan pertanyaan dan pernyataan yang bisa  menyudutkan dokter gigi. Misalnya, “Sakit ya nak? Nanti kita pukul ya dokternya habis ini selesai” atau “Kalau kamu gak mau buka mulut nanti disuntik loh sama dokternya”. Hal – hal tersebut harus dihindari oleh para orang tua.


Ada beberapa metode manajemen rasa takut anak yang biasa diterapkan dalam perawatan gigi anak. Pendekatan Tell-Show-Do (TSD) sebagai metode persiapan dapat diterapkan pada anak yang pertama kali berkunjung ke dokter gigi. Penatalaksanaan rasa takut pada tahap ini hanya sebatas pendekatan “Tell dan Show” saja.


Teknik ini digunakan secara rutin dalam memperkenalkan anak pada perawatan profilaksis, yaitu pembersihkan plak pada gigi anak menggunakan brush dan pengaplikasian menggunakan handpiece low speed. Perawatan ini yang dipilih oleh dokter gigi sebagai prosedur operatif pertama. Anak diperlihatkan cara giginya disikat, tunjukkan sikat gigi “khusus”  tersebut dan bagaimana sikat berputar dalam handpiece, ini akan menumbuhkan rasa keingintahuan pada diri anak serta menumbuhkan rasa kepercayaan terhadap dokter gigi yang merawatnya. Pada tahap ini diperlukan pujian untuk anak, karena tingkah laku yang baik selama perawatan awal dan segera diberi penguatan untuk perawatan selanjutnya. Dalam kunjungan berikutnya baru bisa ditingkatkan ke perawatan tahap selanjutnya.


Desain klinik yang menarik juga bisa membantu melancarkan proses pengenalan dokter gigi pada anak. Selain itu, bisa disediakan mainan untuk pasien anak, sehingga pasien tidak bosan menunggu. Serta pemberian reward setelah perawatan gigi juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi anak. Jadi, jangan lupa ya buat para orang tua untuk memeriksakan gigi anaknya ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali.


sumber : http://dentaluniverseindonesia.com/2018/08/perawatan-ke-dokter-gigi/


©2018 www.grahamaya.com, All Right Reserved